for keeping my mouth shut

Tuesday, September 08, 2009

Bazaar Art Jakarta (not an art review, cuma berbagi pengalaman datang ke festival seni)




Disini saya tidak akan mengulas karya seni yang ditampilkan tapi lebih kepada pengalaman pribadi menghadiri festival seni ini.

Minggu lalu, 30 Agustus, saya menghadiri Bazaar art Jakarta yang berlangsung dari tanggal 28-30 Agustus di Pacific Place Mall. Acara ini diorganisasi oleh majalah Harpers Bazaar Indonesia sehingga tak heran namanya pun Bazaar Art Jakarta. Pemilihan nama Bazaar dan bukan Harpersnya yang diambil tampaknya sengaja dipilih oleh penyelenggara dikarenakan kata bazaar akan diasosiasikan secara langsung oleh masyarakat Jakarta dengan pameran pameran dagang yang menjual barang barang seni menarik pengisi rumah.
Hal ini saya alami sendiri ketika saya menaruh status saya di facebook bahwa saya akan mengunjungi festival seni ini beberapa teman mengomentari dengan “selamat berbelanja ya”. "ngenes' hati saya baca komentar teman teman. Apa mau dikata, nama itu yang memang yang dipilih panitia penyelenggara.

Ketika saya memasuki area Pacific Place, ada perasaan dingin dan sedih menghampiri hati saya. Dingin karena buat saya mall ini begitu mengintimidasi saya dengan produk produknya yang luar biasa mahalnya dan tidak terjangkau oleh kantong saya.

Sedih karena di Indonesia untuk urusan seni pun harus diadakan di mall, tempat dimana orang orang dengan senang hati berbondong bondong datang dengan sukarela melihat barang bermerek baru yang akan menunjang penampilan mereka . Masyarakat kita belum terbiasa sengaja datang ke gallery gallery untuk menghargai dan belajar menikmati karya seni. Masyarakat kita masih berkutat dengan pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan akan seni masih sangat jauh dicapai. Walaupun belakangan ini ada kecenderungan menggembirakan yaitu kita sudah mulai merasakan kebutuhan akan adanya liburan dengan semakin banyaknya komunitas jalan jalan di dunia maya.

Anyway untuk urusan seni, para penggiat seni Indonesia harus memikirkan cara yang paling ampuh mendatangi calon calon penikmat seni atau menjemput para penonton bola datang ke lapangan bola.
Untuk menikmati seni rupa tiga dimensi berupa patung, karya seni ruang instalasi, dan foto foto dahsyat karya Indra Leonardi, pengunjung bisa menyusuri koridor dan di sekitar escalator mulai dari lantai satu sampai lantai tiga. Lukisan lukisan dari galeri galeri kontemporer di Indonesia, atau lebih tepatnya Jakarta dan Bali, ditempatkan di ballroom ritz carlton hotel pacific place.

Penempatan beberapa karya patung di dekat escalator yang saya yakin tidak diharapkan oleh para perupanya (penghinaan kalau untuk saya pribadi), entah kenapa membuat saya sekali lagi sedih, sebegitu takutnyakah panyelenggara bahwa karya karya seni tersebut tidak akan dinikmati oleh para pengunjung mall yang notabene kaum berduit yang sudah siap dengan kuda kuda mereka memasang kacamata kuda (baca: mata dan pikiran hanya terpaku pada barang barang bermerek yang dipajang di etalase toko). Jika hal seperti ini sudah diantisipasi oleh pihak penyelenggara, maka mereka adalah orang orang yang sangat mengerti target mereka karena menurut pengamatan saya selama berada disana, biarpun festival seni ini sudah ditaruh di mall tetap saja para pengunjung melewati benda benda seni ini tanpa sedikitpun menaruh minat untuk memperlambat kaki mereka, meluangkan waktu sejenak menikmati karya karya seni tersebut. Saya perhatikan hanya ada beberapa pengunjung, bisa dihitung dengan jari, yang mau melihat lihat karya anak bangsa yang sangat indah ini.

Kesedihan saya lumayan terobati ketika saya menuju ballroom ritz carlton tempat lukisan lukisan dari berbagai macam gallery dipamerkan karena ternyata banyak juga penikmat seni yang datang. Betul betul melegakan hati.

Saya bukan ahli seni jadi tidak akan mengomentari karya karya seni yang ditampilkan. Hanya bahwa para pelukis Indonesia harus lebih ‘tenang’, masih ada beberapa lukisan yang terlalu ‘rame’ bikin saya bingung dimana ‘pusat’ lukisan mereka. Saya berharap ke depannya semakin banyak masyarakat Jakarta yang mau dengan sengaja dan dengan kesadaran sendiri datang ke gallery seni dan tempat pertunjukan seni dan budaya lainnya. Datang ke gallery seni sama sekali tidak membuat kantong kita bolong seperti halnya kita datang ke trade fair atau bazaar bazaar lainnya. Datang ke tempat tempat pertunjukan seni dan budaya akan menjadi penyeimbang rutinitas kehidupan kita yang terkadang ‘kosong’ dan ‘penuh’ disaat yang sama, jika anda tahu maksud saya.

Saya juga berharap akan lebih gampang ataupun punya temen temen yang gampang diajak untuk datang ke pameran pameran seni dan pertunjukan budaya lainnya :-).

Fida
Sukabumi, 8 September 2009

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home